Sabtu, 29 Juni 2013

Ku kembali lagi ke Skendi

Tak di sangkah 12 tahun sudah ku meninggalkan tempat dimana ku di besarkan.
kisah masah kecil ku dulu kini terulang kembali sejak 27 Februari 2013, sampai saat ini ku tak mau beranjak ke mana pun ku ingin menikmati kisah masah kecil ku yang lugu dan nakal.
ku di ijinkan untuk membangun sebuah rumah disana rasa senang dan ku berharap rumah idaman ku akan segerah di bangun secepatnya dan ingin ku bawa keluarga ku tinggal bersama ku disana.
tak terasa ku mengumpulkan semua bahan untuk membangun rumah ku ini sudah siap.
Sebuah batuh di sekitar kaplen rumah ku sudah di pecahkan oleh suami ku ,ku sangat berterima kasih karena ku menemukan seseorang yang dapat melakukan itu semua. Dan  ternyata suami ku ada membangun rumah di samping kaplen ku ya...kelihatan sederhana tapi ku sangat senang dan bahagia tinggal di rumah seperti itu sambil menunggu istanah idaman ku di bangun.
Tuhan terima kasih karena masih ada orang lain yang peduli dengan kehidupan ku saat ini. Puji Tuhan saat ini ku sudah di anggat menjadi pegawai tetap di salah satuh perusahaan yg mengurus jaminan kesehatan. Ku bisa membantu kebutuhan keluarga ku. Dan bisa bbantu menyekolahkan adik-adik ku skrng.
terima kasih karena ku sudah kembali ke Skendi

KISAH PEMECAH BATU

Seorang pemecahan batu karang mengeluhkan keberadaan dirinya.
“Ah, Tuhan tidak adil. Setiap bekerja aku pasti  kepanasan.Betapa enaknya menjadi matahari. Ia tidak perlu bersusah-payah seperti aku. Jika Tuhan adil, aku ingin menjadi matahari.”
 Tuhan mengabulkan permintaan  pemecah batu. Dalam waktu sekejap ia berubah menjadi matahari. Betapa bangganya ia. Dengan sekuat tenaga, ia menyinarkan cahanya ke seluruh bumi hingga manusia menjadi kegerahan. Tetapi, tiba-tiba awan hitam mentup sinarnya. Cahaya yang kuat tak mampu menembusnya.


 Tuhan mengabulkan permintaan matahari. Dalam sekejap ia berubah menjadi awan hitam. Dengan congkangnya, sang awan berkeliling dan menggelapkan isinya. Di tengah rasa bangganya, tiba-tiba bertiuplah angin dengan sangat kencang hingga awan hitam itu tercerai-berai. Sang awan menjadi marah.


Dalam sekejap awan berubah menjadi angin. Dengan kekuatan ia bertiup kencang sehingga banyak rumah dan pohon yang roboh. Ia merasa menjadi yang paling hebat hingga akhirnya ia menghantam batu karang. Tetapi, baru karang itu tetap tegak berdiri tidak goyah. Berkali-kali ia menghantam batu karang. Tetapi, jangankan hancur, beranjak sedikit pun tidak. Angin menjadi jengkel.


Tuhan sekali lagi mengabulkan permintaannya. Batu karang itu yakin bahwa tidak dapat yang mengalahkan. Sampai suatu hari, ada seorang laki-laki tua dengan bertelanjan dada membawa alat pemecah batu karang hingga menjadi batu-batu kecil. Batu karang menjadi batu-batu kecil. Batu karang menjadi lebih sadar bahwa ia harus kembali menjadi sadar bahwa ia harus kembali menjadi pemecah batu karang. Tuhan member pelajaran kepada orang yang  tidak pernah puas dan senang membandingkan dirinya dengan orang lain.


 NB: Manusia memang tidak pernah puas sehingga sering kali melihat orang lain lebih baik dari pada diri sendiri. Kita harus mengucap syukur dan menerima diri kita apa adanya.

Kembali Lagi Ke Skendi